Membaca basmalah dalam sholat

HUKUM MEMBACA BASMALAH DALAM FATIHAH SHOLAT

1. Maliki

Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah

Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil’alamin (Riwayat Muslim)

2. Hanafi

Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan suara pelan.

Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir-rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).

3. Hambali

Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.

4. Syafi’i

Wajib membaca Basmallah

a. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telah bersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil’alamin, maka bacalah bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur’an, ummul kitab, dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah. (Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za’far dari Nuh bin Abi Bilal dari Sa’id bin Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)

b. Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim alhamdulillahir robbil’alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)

Segera Klik dibawah ini :

www.daikembar.com

17 responses to “Membaca basmalah dalam sholat

  1. terimaksih banyak,
    menurut analisa saya, masyarakat pedesaan tidak banyak tahu tentang bermazhab, akibatnya mazhab campursari yang dianut. terkadang saya juga sulit menjadi imam di masjid muhammadiyah, saya tetap konsesten dengan mazhab Safe’i, namun bismillah-nya tidak begitu nyaring, akan tetapi masih bisa didengar org dibelakang, oleh karena itu saya perlu saran dan kesimpulan anda! karena saya tidak punya referensi, tolong kirim ke e-mail saya dan saya dapat membawa kabar ini kepd kawan2. wassalam

  2. assalamualaikum.menurut saya selagi itu tidk menyimpang dari sareat.sah sah saja/jgan jadikan suatu perdebatan.seorang muslim di wajibkan mempunyai sifat yg arif.kta punya tanggung jawab ygsama di hadapan TUHAN.ulmak terdahulu juga byak yg membaca nyaring.

  3. Asslamualaikum..ini saya berkomentar bukan untuk berdebat tetapi ingin kongsi bersama mengenai ilmu yang saya sudah punya sampai saat ini. Kalau menurut peribadi saya mencampuradukan mazhab itu bukan menjadi suatu pokok masalah yang utama. Kata siapa yang mencampuradukan mazhab itu tidak boleh? apakah ada hadith sohih dan al-Qur’an pernah menyatakan seperti itu? tidak pernah ada kan? maka kita harus arif bahwa arti mazhab itu sendiri adalah pendapat/pemahaman/argumen, jadi artinya mencampuradukannya dalam hal ibadah bukan menjadi suatu permasalahan, tetapi yang harus diangkat disitu adalah argumen mana yang paling jelas/benar/tepat untuk kita jadikan sebagai pegangan dan kemudian kita aplikasikan dalam hal ibadah kita. Argumen yang paling kuat itulah yang kita pakai dalam melaksanakan ibadah apapun. Tidak menjadi suatu masalah sebetulnya. Secara ringkas saya mengatakan bahwa ketika imam syafi’i itu sendiri pernah menjadi ma’mum kepada imam malik yang menjadi imam ketika solat subuh. Imam malik tidak berqunut dalam solatnya. Dalam masa yang sama syafi’i mengikutinya. Jadi 2 orang imam fiqh ini tidak menyalahi pendapat yang mereka sudah ada. Dalam arti kata lain, contoh pada kondisi itu memberi gambaran bahwa mencampuradukan mazhab itu bukan menjadi suatu masalah. Justeru mereka saling berkongsi ilmu/pemahaman yang mereka sudah pegang. Disini kita harus mancari apa filosofi yang terkandung dalam kasus seperti itu. Maka kita yang ada pada era ini harus cerdas dalam menganalisa. Silakan melaksanakan ibadah dengan prinsip/argumen kalian sendiri! dan argumen tersebut harus kuat dan kebenarannya terbukti. Karena di Akhirat nanti kita akan dipertanggungjawabkan dengan amal masing- masing maka harus punya argumen sendiri! bukan ikut- ikutan kepada firqah yang tertentu. 4 imam fiqh yang terkenal tersebut diatas juga sendiri pernah menyatakan bahwa “jika kalian menemukan suatu dalil/nash yang lebih kuat( hasil dari analisa dalam ilmu musthalahuhadith) maka tinggalkan argumen yang saya sudah miliki saat itu”. Disiini merekalah yang mengambil jalan bijak dalam menyikapi masalah dalam hal ibadah..statmen itu memberikan isyarat bahwa mereka tidak pernah untuk memaksa kita untuk mengikuti mereka terus- menerus..ya kan? karena mereka pasti mengetahui bahwa ilmu yang dimiliki oleh seseorang saja belum cukup sempurna untuk melengkapi serta menyelesaikan suatu permasalahan. “Ingatlah bahwa: manusia itu diciptakan dengan lemah,” maka tiada seorang pun yang dilahirkan dengan sempurna, pasti ada kelebihan dan kekurangan masing- masing..Terus kemudian ulama’ dulu yang mana pernah membaca basmalah dengan nyaring/jahr? mungkin ulama’ yang anda maksudkan adalah ulama’ fiqh. Ya memang dalam kasus ini, ulama’ yang harus terlibat adalah ulama’ terkenal dengan fiqhnya dan ilmu hadithnya. Maka harus dibedakan antara ulama’ fiqh dan ulama’ yang pakar tentang hadith. Jadi ulama’ yang keahliannya lebih kepada ilmu hadithlah yang membaca basmalah dengan suara perlahan/siir..bukan berarti baslamah itu tidak dibaca..disini saya melihat banyak yang terjebak keliru. Bukan masalah membaca basmalah itu atau tidak membacanya, tetapi persoalan yang sebetulnya harus diangkat disitu adalah apakah basmalah itu dibaca dengan keras atau perlahan??..surah al-fatihah itu kan ada tujuh ayat didalam kitab al-quran, seperti yang pernah diargumentasikan oleh imam Syafi’i tersebut diatas..Nah, Ulama’ itu banyak keahliannya. Yang harus kita fokus dalam masalah/kasus ini adalah ulama’ yang keahliannya lebih kepada ilmu hadith. karena merekalah yang akan menentukan suatu dalil/nash itu sohih/kuat ataupun tidak. contohnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ulama yang mendalam pengetahuannya terhadap hadits telah bersepakat, tidah ada satu pun hadits (shahih, pen.) yang tegas menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr/nyaring/keras. Demikian pula, tidak diketahui ada salah satu kitab sunan yang masyhur -seperti Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i- yang membawakan periwayatan basmalah secara jahr. Periwayatan yang menyebutkan secara jahr hanya didapatkan dalam hadits-hadits maudhu’ah (palsu) yang diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labi dan Al-Mawardi -dalam Tafsir- dan yang serupa dengan beliau berdua, atau disebutkan di beberapa kitab fuqaha yang tidak membedakan antara riwayat yang palsu dan yang tidak.
    Ketika Al-Imam Ad-Daruquthni rahimahullah datang ke Mesir, beliau pernah diminta mengumpulkan hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr. Beliau pun melakukan dan menganalisanya. Kemudian ketika beliau ditanya, adakah yang shahih dari hadits-hadits tersebut? Beliau menyatakan, “Adapun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak didapatkan, sedangkan atsar dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada yang shahih dan ada pula yang dhaif (lemah).” (Majmu’ Fatawa, 22/416, 417)
    Beliau juga berkata, “Sebenarnya, banyak beredar kedustaan dalam hadits-hadits yang menyebutkan pembacaan basmalah secara jahr karena orang-orang Syi’ah berpendapat bacaan basmalah dijahrkan, padahal mereka dikenal oleh kaum muslimim sebagai kelompok yang paling pendusta di antara kelompok-kelompok sempalan dalam Islam. Mereka memalsukan hadits-hadits dan membuat rancu agama mereka dengan hadits-hadits tersebut.
    Oleh karena itu, didapatkan ucapan imam Ahlus Sunnah dari penduduk Kufah, seperti Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, yang menyatakan bahwa termasuk sunnah adalah mengusap kedua khuf dan meninggalkan membaca basmalah secara jahr. Sebagian mereka juga menyebutkan bahwa Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama dan lebih mulia daripada para sahabat yang lainnya, dan ucapan-ucapan yang semisalnya, karena hal-hal tersebut -yaitu tidak mau mengusap khuf, membaca basmalah secara jahr, menganggap ada yang lebih berhak menjadi khalifah, lebih utama, dan lebih mulia daripada Abu Bakr dan Umar- merupakan syiar Rafidhah. Ada pula seorang imam mazhab Syafi’i, Abu Ali ibnu Abi Hurairah rahimahullah, yang meninggalkan jahr ketika membaca basmalah. Ketika ditanya sebabnya, beliau rahimahullah berkata, “Karena membaca basmalah secara jahr telah menjadi syiar orang-orang yang menyelisihi agama.” (Majmu’ Fatawa, 22/424)
    Hadits yang menyebutkan secara tegas bahw basmalah diucapkan dengan jahr diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Musnad-nya (hadits no. 145), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/233), dan Al-Baihaqi dalam Sunan-nya (2/47), dari jalan Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Abu Bakr bin Hafsh bin Umar, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Muawiyah radhiyallahu ‘anhu pernah mengimami shalat di Madinah dan menjahrkan bacaan Al-Qur’an, membaca basmalah sebelum membaca Al-Fatihah, dan tidak membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Al-Fatihah sampai selesai bacaan tersebut. Beliau radhiyallahu ‘anhu tidak bertakbir ketika turun sujud hingga selesai shalat. Setelah mengucapkan salam dari shalatnya, para sahabat Muhajirin yang mendengar hal tersebut menyerunya dari setiap tempat, “Wahai Mu’awiyah, apakah engkau mencuri shalat, ataukah engkau lupa?” Setelah peristiwa itu, bila shalat mengimami manusia, Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu membaca basmalah sebelum surah yang dibaca setelah Ummul Qur’an (Al-Fatihah) dan bertakbir ketika turun sujud.
    Hadits yang lain diriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Ismail bin Ubaid bin Rifa’ah, dari bapaknya, bahwasanya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah mengimami penduduk Madinah tanpa membaca basmalah dan tanpa bertakbir ketika melakukan gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau ditegur oleh para sahabat Muhajirin dan Anshar, kemudian disebutkanlah hadits yang semakna dengan hadits di atas. (Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i no. 146)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, hadits ini dhaif ditinjau dari beberapa sisi:
    1. Riwayat yang shahih dan masyhur menyebutkan secara jelas
    penyelisihan dari Anas radhiyallahu ‘anhu terhadap riwayat di atas.
    2. Poros sanad dalam kedua hadits tadi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim. Ia dilemahkan sekelompok ahlul hadits. Mereka memandang hadits ini mudhtharib/goncang periwayatannya, baik secara sanad maupun matan. Ini menjelaskan bahwa hadits tersebut ghairu mahfuzh (mungkar).
    3. Pada sanadnya tidak ada kesinambungan mendengarnya seorang perawi dari perawi yang lain. Bahkan, dalam sanad itu ada kelemahan dan kegoncangan yang dikhawatirkan menyebabkan inqitha’ (terputusnya sanad), juga jeleknya hafalan perawinya.
    4. Anas radhiyallahu ‘anhu tinggal di Bashrah, sedangkan ketika Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu di Madinah, tidak ada seorang ulama ahli sejarah pun yang menyebutkan Anas bersamanya. Bahkan, secara zahir Anas tidak bersama Mu’awiyah.
    5. Kalaupun benar terjadi di Madinah dan perawinya adalah Anas radhiyallahu ‘anhu, tentu murid-murid beliau yang terkenal menemani beliau -demikian juga penduduk Madinah- akan meriwayatkan hadits tersebut dari beliau. Akan tetapi, tidak didapatkan salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Anas, bahkan yang dinukil dari mereka justru sebaliknya.
    6. Bila benar Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr, ini menyelisihi kebiasaan beliau yang dikenal oleh penduduk Syam yang menemani beliau, sementara tidak ada seorang pun dari mereka yang menukilkan bahwa Mu’awiyah membaca basmalah dengan jahr. Bahkan, seluruh penduduk Syam, baik pemimpin maupun ulamanya, berpendapat tidak menjahrkan bacaan basmalah. Dalam hal ini Al-Imam Al-Auza’i sendiri -yang dikenal sebagai imam negeri Syam- bermazhab seperti mazhab Al-Imam Malik, yaitu tidak membaca basmalah sama sekali, baik sirr ataupun jahr.
    Dengan demikian, orang yang berilmu (para muhaddits) yang melihat beberapa sisi ini akan memastikan bahwa hadits ini batil, tidak ada hakikatnya, atau telah diubah dari yang sebenarnya.
    Adapun yang membawakan hadits ini, telah sampai kepadanya (hadits tersebut) dari jalan yang tidak shahih, sehingga menimbulkan cacat berupa terputusnya sanad.
    Kalaupun hadits ini selamat, dia tetap syadz (ganjil), karena menyelisihi periwayatan perawi yang banyak dan lebih kokoh
    (hafalannya) yang meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahkan menyelisihi periwayatan penduduk Madinah serta Syam. (Majmu’ Fatawa, 22/431-433), Sumber: Majalah Asy-Syariah no. 61/VI/1431 H/2010, hal. 68-70. Jadi, secara ringkas apa yang bisa disimpulkan adalah dalam sepanjang riwayat Rasulullah, Rasulullah tidak pernah membaca basmalah secara jahr tetapi membacanya dengan perlahan/siir. Silakan saja siapa yang ingin membaca basmalah secara jahr; juga tidak menjadi suatu masalah. Tetapi harus diingat bahwa dalam hal ibadah mahdhah/khusus seperti solat fardhu itu tiada komprominya dari Allah. “solatlah yang akan pertama kali ditanyakan sebelum amal- amal yang lain ditanya. Jika solatnya ternyata ada yang tidak beres, maka sulit untuk menempuh pertanyaan yang berikutnya”. kita sendiri diminta berkomentar dihadapan Allah, apakah yang kita amal selama kita lakukan didunia itu apakah benar/yakin murni pegangan/prinsip dari kita sendiri atau ikut- ikutan dari mana- mana firqah apapun. Ketika itu orang lain juga sibuk dengan menghitung amal- amalnya sendiri, tidak akan peduli terhadap anda. Dan apa yang harus kita bersama lakukan adalah mencari suatu kebenaran. Saya jamin, ilmu yang saya ada saat ini berbeda dengan ilmu yang kalian sudah ada. Maka timbullah suatu persepsi/pemahaman/argumen/ pegangan yang berbeda antara kita dan itu memang harus terjadi karena perbedaan/persepsi yang kita miliki ini adalah juga ciptaan Allah. Jadi wajar-wajar aja kita punya pegangan yang berbeda. Filosofinya adalah Allah sebenarnya ingin menguji tahap keimanan/ketaqwaan serta keyakinan atas ilmu yang kita sudah ada. Bisikkanlah dalam hati sendiri, Apakah kita ini punya prinsip hidup sendiri? kita hidup didunia ini harus punya prinsip! dan itulah yang akan dipertanyakan Allah saat kita dihadapkan diakhirat nanti.”Tiada jalan lain untuk bertemu dengan Allah kecuali dengan ilmupengetahuan”. Walaupun kita ketahui bahwa kebenaran bagi etape sesama manusia itu punya relativitasnya, tetapi ia bukan menjadi suatu penghalang untuk kita mencari kebenaran yang benar-benar yang bersumberkan dari al-Qur’an dan al-Hadith. Juga tidak lupa jangan menyalahi ilmu orang lain, karna mungkin pada ketika itu orang yang melakukan sesuatu ibadahnya pada saat itu sesuai dengan kemampuan ilmu yang sudah ada pada dia. Namun jangan berhenti disitu saja, karna ilmu apapun itu sangatlah luas dan senantiasa bekembang. “Jangan pernah merasakan cukup dengan apa yang kita sudah ada”. Saya bukannya orang NU, Muhammadiyah, Salafi atau wahabi dan sebagainya, tapi saya hanyalah seorang “islam”.”Bebaskanlah dirimu, tiada paksaan dalam islam”. Maka teruskan untuk mencari kebenaran yang sesuai dicontohkan oleh Rasulullah kita. Moga darinya kita bisa diberi jalan yang tepat dan bahgia untuk bisa bertemu dengan Allah, itulah yang sebenarnya dirindukan serta diinginkan oleh nurani/jiwa kita..dan itulah yang pernah dirasakan oleh Rasulullah didalam perjalanan isra’mi’rajnya;bertemu dengan Allah dalam solat lewat sebuah kepahaman/pegangan/persepsi sendiri yang ada pada pribadi Rasulullah. Kemudian dengan elemen tersebut dicurahkan dalam energi ruhani/spritual dalam perjalan etape keduanya ;mi’raj melintasi dimensi-dimensi langit sampai langit ketujuh. Disitulah hanya kekaguman yang dirasakan seorang hamba ketika melihat samudera ilmu pengetahuan yang tiada terbatas…wallahua’lam…

    • anda berpendapat berdasarkan pendapat ibnu taimiyah yang jelas2 telah tertolak, tlg jgn membikin resah umat! jgn mengobrak-abrik islam yg sdh 90 % ini, tlg anda islamkan yang 10 % nya lagi, tlg dibuka blog habib munzir! tanyakan mslh yang ada?

  4. pada gak usah bingung bagi syafii kan membaca basmalah wajib dan bagi yang lain kan ada yang sunat tinggal dibaca aja basmalah kan udah kena semua… walaupun imam hambali tidak mensunatkan dibaca keras tapi kan ia tidak melarang untuk dibaca keras intinya dia memubahkan tow….

    • yg pernah saya dengar dari ustadz Hadist dari Aisiyah r.a itu tdak menjelaskan kalau rosululloh tidak membaca Bismillah,
      yg dimaksud ” memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil’alamin ”
      kata “alhamdulillahi robbil’alamin ” adalah nama lain dari surat alfatihah
      hal ini dijelaskan di hadist lain saya lupa hadistnya tanyakan yg lebih tau; saya pernah mendengarnya.

      wallohu a’lam

  5. yang jelas, kita udah ikut salah satu mazhab, pegang erat2 dan amalkan, insya Allah selamat dunia akhirat, kalau salah, maka si empunya mazhab yang berdosa, bukan kita. jangan memperkeruh suasana umat muslim dengan perkataan yang memecah belah ummat, karena kalau sudah ikhtilaf dan punya masing2 dalil, tidak bisa saling menyalahkan lagi satu sama lain. yg seperti ini yang suka bikin masalah yanitu faham2 baru seperti WAHABI

    • wah tidak blh spti itu..jangan menyalahkan yg membuat mahzab..dia sendiri sebenarnya tdk menciptakan aliran..hanya mengemukakan penafsiran..terserah generasi berikutnya jika ingin mengamalkan dan mengikuti..toh manusia dibekali dengan akal..dan dalam islam diperintahkan untuk terus mengkaji dan menambah ilmu..jadi berpikirlah dan amalkan yg menurut anda memiliki dasar paling kuat..setiap orang akan diminta pertanggungjawaban masing-masing..bukan menjadi tanggung jawab yg empunya mahzab!

  6. Assalamualaekum WR WB, MEnurut saya jangan di permasalhkan Siapa pun IMAM nya, yang pasti makmum mengikuti imam… GIMAna juga ke empat (4) iman kita….. misal imam HAMBALI menjadi imam dalam sholat ke tiga(3) imam yg lain mengikuti Imam HAMBALI , begitu juga sebaliknya.. —- karena dari ke empat (4) Imam mereka semuanya 1 (satu ) GURU…???

  7. Kalau mau selamat ikuti salah satu dr 4 mazhab pegang erat2 dan jangan mencampur aduk kan diantaranya dan mengambil yg mudah saja..Orang yg seperti itu kelak di saumil mahsyar ditolak oleh ke 4 imam..Sehingga ia kebingungan mencari barisan kesana kemari..Kalau kita bermazhab safii ikuti dan pegang erat2 fiqihnya..Insya ALLAH kelak kita dibelakang bendera RASULULLAH..Dan berada dibarisan Iman Safei…

    • amal perbuatan kita sendiri yg menentukan nasib kita di akhirat kelak. bukan bergantung pada siapa kita bermazhab !!!
      mo safe’i, hanafi, hambali, bukhari, maliki,, sama saja yg penting adalah amal ibadah kita kepada ALlah dan bagaimana kita hidup sebagai makhluk sosial.

    • prinsifku sama seperti kamu,aku berilmu di tanggrearang,dan sserang hanya pegang satu dari 4 imam yang ada,satu imam juga belum mampu tuk ambil kaedah imam safei,apalagi harus pegang semua

  8. kalau amal ibadah kita tanpa di dasari ilmu,.itu sia-sia,.walaupun kita sebagai makhluk sosial,.tetap harus mencari ilmu biar bisa beribadah secara benar,.adapun di terima tidaknya ibadah kita tergantung Allah SWT

  9. Yang bakal masuk surga bukanlah yang orang NU apa Muhamadiyah atau yang lain2nya .. tetapi orang Islam yang dalam melaksanakan ibadahnya TAHU, DAN MENGERTI DASAR HUKUMNYA. bukan HANYA IKUT2AN…

    Syarat dan Rukun suatu ibadah harus dimengerti.. mana yang membuat BATAL atau TIDAK DITERIMA.

    Maka nya Mari Kita Selalu tingkatkan Ilmu kita dengan tanpa henti2nya untuk selalu Belajar Mengkaji Ilmu Agama Kita.

    Dan Kalau sudah tahu mana yang benar jangan merasa sok benar sendiri.

    ..

  10. assalamu ‘alaikum wr wb.
    Madzhab(aliran) itu ada empat,kita di perbolehkan mengikuti salah satunya,asal jangan keluar dari yang
    Empat tsb,adapun soal mencampur adukan madzhab,misalnya peraturan empat madzhab di pake semua dalam solat dzuhur(munfarid) itu yang tidak boleh.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s